Menilik Jejak Sejarah Desa Tunggal Jaya: Dari Pemukiman Transmigrasi Menuju Desa Mandiri
Desa Tunggal Jaya merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Teras Terunjam, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Sebagai desa yang lahir dari program pemerataan penduduk, sejarah Tunggal Jaya adalah potret kegigihan para pionir dalam membangun peradaban di tengah hutan belantara Sumatera.
1. Cikal Bakal dan Era Transmigrasi
Sejarah Desa Tunggal Jaya tidak dapat dipisahkan dari program Transmigrasi pemerintah Republik Indonesia. Pada sekitar akhir tahun 1980-an hingga awal 1990-an, wilayah yang kini menjadi Desa Tunggal Jaya awalnya merupakan kawasan hutan dan semak belukar yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara (sebelum pemekaran Mukomuko).
Wilayah ini awalnya dikenal sebagai Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT). Para transmigran gelombang pertama berasal dari berbagai daerah, mayoritas dari Pulau Jawa (seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat) serta warga lokal yang mengikuti program transmigrasi lokal (Transloke).
2. Perjuangan Masa Awal
Pada masa awal penempatan, kondisi infrastruktur sangat terbatas. Para penduduk pertama harus berjuang melawan alam yang masih liar. Fokus utama mereka saat itu adalah:
-
Pembukaan Lahan: Mengubah lahan jatah dari pemerintah menjadi lahan pertanian produktif.
-
Ketahanan Pangan: Menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, dan palawija untuk kebutuhan sehari-hari.
-
Pembangunan Swadaya: Membangun sarana ibadah dan pendidikan secara gotong royong sebelum adanya bantuan penuh dari pemerintah pusat.
3. Transformasi Ekonomi: Era Kelapa Sawit
Titik balik kesejahteraan Desa Tunggal Jaya terjadi seiring dengan masuknya komoditas Kelapa Sawit di Kabupaten Mukomuko.
Awalnya, warga hanya mengandalkan tanaman pangan. Namun, seiring dengan berdirinya pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit di sekitar wilayah Teras Terunjam dan Penarik, warga mulai beralih menanam sawit secara masif. Hal ini secara drastis mengubah struktur ekonomi desa dari pertanian subsisten menjadi ekonomi berbasis perkebunan yang lebih mapan.
4. Perkembangan Administrasi
Seiring dengan berjalannya waktu dan terpenuhinya syarat kependudukan serta luas wilayah:
-
Status Definitif: UPT tersebut resmi menjadi desa definitif dengan nama Tunggal Jaya. Nama ini mengandung filosofi persatuan (Tunggal) dan kejayaan (Jaya), mencerminkan harapan agar masyarakat yang heterogen dapat bersatu mencapai kesejahteraan.
-
Pemekaran Wilayah: Dengan terbentuknya Kabupaten Mukomuko pada tahun 2003 (hasil pemekaran dari Bengkulu Utara), Desa Tunggal Jaya secara administratif berada di bawah naungan Kecamatan Teras Terunjam.
5. Kehidupan Sosial dan Budaya
Salah satu keunikan Desa Tunggal Jaya adalah Pluralisme. Meskipun didominasi oleh suku Jawa, desa ini hidup berdampingan dengan suku asli Mukomuko, Minang, dan suku lainnya. Akulturasi budaya terlihat dalam:
-
Gotong Royong: Tradisi yang tetap terjaga dalam setiap kegiatan desa.
-
Kegiatan Keagamaan: Pengajian dan perayaan hari besar yang menjadi pemersatu warga.
-
Pendidikan: Saat ini desa telah memiliki fasilitas pendidikan yang memadai, mulai dari tingkat dasar, yang menjadi tumpuan bagi generasi muda desa.
6. Desa Tunggal Jaya Saat Ini
Kini, Tunggal Jaya telah berkembang menjadi desa yang dinamis. Akses jalan yang semakin baik memudahkan distribusi hasil perkebunan. Dibawah kepemimpinan pemerintah desa, fokus pembangunan kini beralih pada digitalisasi desa, optimalisasi BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
----- MENUJU DESA MANDIRI DAN TERDEPAN ----